JP Bogor - Sering kali, kita diingatkan untuk tidak minum air setelah makan buah-buahan tertentu. Kenapa? Karena ada kekhawatiran air bisa mengganggu pencernaan kita.
Utamanya, air dipercaya dapat mengencerkan cairan lambung, yang akhirnya bisa menghambat dan memperlambat proses pencernaan. Selain itu, asupan air yang tiba-tiba juga bisa memengaruhi keseimbangan pH tubuh, menyebabkan ketidakseimbangan.
Meskipun terdengar sepele, minum air bersamaan dengan buah atau langsung setelahnya sebenarnya tidak terlalu dianjurkan karena bisa berdampak negatif pada kesehatan secara keseluruhan.
Dilansir dari English Jagran, ada lima buah yang sebaiknya tidak Anda padukan dengan air, atau lebih baik hindari minum air setelah mengonsumsinya:
1. Semangka
Minum air setelah makan semangka bisa mengganggu pencernaan. Ini karena kandungan air dan gula alami yang tinggi pada semangka dapat mengencerkan enzim pencernaan. Asupan air yang tiba-tiba juga bisa menekan sistem pencernaan, berpotensi menyebabkan diare, kram perut, dan rasa tidak nyaman.
2. Mentimun
Sama seperti semangka, minum air setelah makan mentimun juga dapat mengganggu pencernaan karena kandungan airnya yang tinggi. Mentimun sudah mengandung banyak air, dan jika ditambah air lagi, enzim pencernaan bisa encer dan proses pencernaan jadi melambat.
3. Jeruk
Minum air setelah makan jeruk dapat menghambat penyerapan nutrisi. Jeruk kaya akan vitamin C, yang bisa hilang jika Anda langsung minum air setelah mengonsumsinya. Ini bisa mengurangi kemampuan tubuh untuk menyerap manfaat vitamin tersebut.
4. Melon
Mengonsumsi air setelah makan melon bisa menyebabkan ketidakseimbangan enzim pencernaan. Melon mengandung enzim yang bertugas memecah protein, dan menambahkan air dapat mengganggu proses ini. Akibatnya, bisa terjadi gangguan pencernaan, mual, dan rasa tidak nyaman di perut.
5. Nanas
Nanas mengandung enzim bromelain yang dapat memecah protein dan berpotensi mengiritasi lapisan lambung. Jika Anda minum air, asam lambung bisa semakin encer, yang bisa menyebabkan peningkatan keasaman, nyeri ulu hati, dan ketidaknyamanan.
Editor : Candra Mega Sari