Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Fenomena Kidfluencer: Antara Kebebasan Ekspresi dan Risiko Eksploitasi Anak

Talitha Sakha Althafah • Senin, 24 Maret 2025 | 11:51 WIB
Ilustrasi anak merekam konten dirinya sendiri. (Pexels)
Ilustrasi anak merekam konten dirinya sendiri. (Pexels)

JP Bogor - Fenomena "Kidfluencers" semakin marak di media sosial, di mana anak-anak menjadi influencer dengan akun yang dikelola oleh orang tua mereka. Konten yang dibagikan umumnya menampilkan keseharian sang anak, mulai dari aktivitas bermain, interaksi keluarga, hingga ulasan produk. Banyak orang menikmati konten seperti ini, entah karena tertarik dengan pola asuh orang tua atau sekadar menggemari kelucuan anak-anak tersebut.

Namun, fenomena kidfluencer juga menuai perdebatan. Platform media sosial sendiri menetapkan usia minimum 13 tahun untuk memiliki akun, sementara banyak kidfluencers berusia jauh di bawah itu. Selain itu, ada kekhawatiran terkait eksploitasi anak, privasi, serta dampak jangka panjang terhadap perkembangan mereka.

Namun apakah menjadikan anak sebagai pusat konten tidak apa-apa?

Menurut The Conversation, Prancis tampaknya menjadi satu-satunya negara yang telah memiliki regulasi terkait fenomena ini. Berdasarkan hukum yang berlaku di sana, anak-anak hanya diperbolehkan bekerja dalam batas waktu tertentu, dan penghasilan mereka harus disimpan dalam rekening yang baru dapat mereka akses saat berusia 16 tahun.

Di banyak negara lain, Kidfluencer mungkin tidak dianggap sebagai pekerja karena mereka terlihat bahagia dan menikmati peran mereka dalam konten. Namun, ketika sudah terlibat dalam kerja sama dengan merek tertentu dan terikat kontrak, ekspektasi yang muncul bisa mengesampingkan kesenangan anak dalam membuat konten. Meskipun tidak bekerja secara resmi, mereka tetap menghabiskan banyak waktu dalam proses pembuatan konten.

Semakin sering konten diunggah, semakin besar popularitas yang diperoleh Kidfluencer. Namun, popularitas ini juga membawa risiko terhadap privasi dan keamanan mereka. Bahkan bagi orang dewasa, ketenaran bisa menjadi ancaman, dengan perbedaan bahwa mereka lebih memahami langkah-langkah pencegahan yang dapat dilakukan.

Baca Juga: Redebut, NJZ Tampil di ComplexCon Hongkong dengan Lagu Baru 'Pit Stop'

Oleh karena itu, orang tua perlu menyeimbangkan antara kebebasan berekspresi dan perlindungan terhadap anak. Hal ini berdampak jangka panjang, baik bagi anak-anak maupun masyarakat. Regulasi yang jelas dari pemerintah juga dibutuhkan agar anak-anak tetap dapat menikmati masa kecil mereka tanpa mengorbankan privasi dan keamanan mereka. (*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#influencer #konten #anak #eksploitasi #Kidfluencers