JP Bogor – Membeli barang yang sebelumnya sulit dijangkau tentu membawa kebahagiaan. Namun, sering kali, niat awal untuk membeli satu atau dua barang malah berujung pada pengeluaran lebih besar karena dorongan untuk melengkapi atau mencocokkan dengan barang lain. Misalnya, setelah membeli sofa baru, karpet dan meja ruang tamu mendadak terasa kurang cocok, sehingga akhirnya kamu membeli keduanya meski masih layak pakai.
Fenomena ini dikenal sebagai "Efek Diderot" atau "Diderot Effect", yaitu kecenderungan psikologis seseorang untuk terus membeli barang tambahan yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan.
Mengutip becomingminimalist.com dan jamesclear.com, istilah efek Diderot berasal dari filsuf Prancis abad ke-18, Denis Diderot, yang mengungkapkan konsep ini dalam esainya berjudul Regrets on Parting with My Old Dressing Gown.
Dalam esainya, Diderot mengisahkan bagaimana satu mantel baru yang ia terima sebagai hadiah justru membawa perubahan besar dalam hidupnya. Mantel tersebut tampak begitu mewah sehingga membuat perabotan lamanya terlihat ketinggalan zaman. Akibatnya, ia mulai mengganti berbagai barang agar selaras dengan mantel barunya, hingga tanpa sadar terperangkap dalam pola konsumsi berlebihan.
Efek Diderot sering muncul ketika seseorang membeli barang baru yang berbeda secara estetika atau fungsional dari yang sudah dimiliki, sehingga memicu keinginan untuk membeli lebih banyak agar semuanya terlihat selaras.
Fenomena ini bisa terjadi dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya, membeli baju baru lalu merasa perlu mengganti sepatu dan tas agar serasi, atau membeli sofa baru yang tampak tidak cocok dengan furnitur lama sehingga akhirnya memperbarui seluruh ruangan. Begitu pula dengan pembelian ponsel terbaru yang sering diikuti dengan keinginan mengganti aksesori seperti earphone, casing, hingga smartwatch.
Meskipun tidak selalu berdampak negatif, efek Diderot dapat mendorong gaya hidup konsumtif tanpa disadari. Untuk menghindarinya, berikut beberapa cara yang bisa diterapkan, mengutip dari becomingminimalist.com:
1. Sadari Polanya
Sebelum membeli sesuatu, tanyakan apakah pembelian ini akan memicu pembelian lain. Jika iya, pertimbangkan kembali apakah benar-benar diperlukan.
2. Gunakan Prinsip Minimalisme
Fokus pada kegunaan daripada estetika semata. Tidak semua barang baru harus diikuti dengan perubahan lainnya.
Baca Juga: Asal-usul dan Fakta Menarik Tentang Mie Bangladesh, Makanan Viral yang Bukan dari Bangladesh!
3. Beri Jeda Sebelum Membeli
Jika merasa ingin membeli barang tambahan setelah pembelian awal, tunggu beberapa hari. Sering kali, keinginan tersebut hanya bersifat impulsif dan akan hilang dengan sendirinya.
4. Buat Batasan Belanja
Tentukan anggaran yang jelas dan prioritaskan kebutuhan dibandingkan keinginan. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah