JP Bogor – Dewasa ini perkembangan teknologi sudah sampai di titik yang tidak bisa dibayangkan oleh masyarakat pada dua sampai tiga dekade ke belakang. Alat-alat elektronik muncul dan terus berkembang dengan banyaknya fitur baru agar tetap relevan dengan kemajuan zaman.
Melihat fenomena tersebut, tidak dapat dipungkiri lagi kebutuhan manusia terhadap akses dunia digital saat ini menjadi hal yang hampir mustahil bisa dipisahkan. Berawal dari maksud positif untuk membantu hajat perkembangan zaman, perlahan menjadi bumerang dari niat awal itu sendiri.
Dunia digital kemudian bertransformasi menjadi suatu ruang yang sesak dan menyempitkan. Secara perlahan kehidupan dunia digital menggerogoti kondisi pribadi kita di kehidupan dunia nyata.
Oleh sebab itu, banyak orang pada akhirnya melakukan "puasa digital" untuk mengambil rehat sejenak dari hiruk-pikuk kesibukan dunia digital. Puasa ini kerap disebut sebagai "Digital Detox" atau dalam bahasa Indonesia "Detoks Digital".
Ada banyak alasan mengapa detoks digital bisa menjadi langkah positif untuk sejenak beristirahat dari hiruk-pikuk dunia digital. Mengutip dari webmd.com, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa 25% pengguna gawai berusia 18 hingga 44 tahun bahkan tidak mengingat kapan terakhir kali mereka benar-benar menjauh dari perangkat mereka, meskipun hanya sebentar.
Terlalu lama berada di depan layar dapat memicu berbagai masalah, seperti menurunnya rasa percaya diri, gangguan tidur, depresi, kecemasan, peningkatan berat badan, hingga berbagai masalah mental lainnya. Selain itu, penggunaan gawai yang berlebihan juga berisiko mengganggu fungsi otak akibat stimulasi dopamin yang terus-menerus terjadi, menjadikan gawai layaknya zat adiktif yang sulit dilepaskan.
Di sinilah detoks digital berperan penting. Dengan membatasi paparan informasi digital yang berlebihan setiap hari, seseorang dapat lebih memilah informasi yang dikonsumsi, sehingga pikiran menjadi lebih tenang.
Menurut emc.id, detoks digital dapat membawa berbagai manfaat, seperti meningkatkan rasa percaya diri, mengurangi kecemasan, menurunkan risiko depresi, serta membantu mendapatkan tidur yang lebih berkualitas.
Jika ingin mulai menerapkan detoks digital, baik secara bertahap maupun menyeluruh, penting untuk menyadari alasan utama saat menggunakan gawai. Tanpa kesadaran ini, seseorang bisa terjebak dalam kebiasaan "mindless scrolling" atau menggulir layar tanpa tujuan yang hanya membuang waktu. Selain itu, mematikan notifikasi dan koneksi internet pada malam hari juga dapat membantu mengurangi dorongan untuk mengecek gawai sebelum tidur. (*)
Editor : Siti Nur Qasanah