JP Bogor - Banyak orang tua bertanya-tanya, kapan usia ideal anak untuk mulai berlatih puasa? Menurut Ustaz Adi Hidayat (UAH), latihan puasa itu penting dilakukan sebelum anak memasuki masa baligh. Dengan begitu, anak tidak merasa terbebani saat sudah diwajibkan berpuasa penuh.
Dilansir dari YouTube Adi Hidayat Official, Rabu (12/2), UAH menjelaskan bahwa latihan puasa perlu dilakukan bertahap sebelum anak mencapai usia baligh.
"Jadi, sepanjang dia belum baligh maka masih terbuka waktu untuk belajar puasa. Jadi jangan sampai nanti ketika sudah baligh anak itu malah menggunakan waktu Ramadhan untuk belajar puasa," jelas UAH.
UAH juga menegaskan bahwa usia baligh seorang anak bisa berbeda-beda. Untuk anak perempuan, baligh ditandai dengan datangnya haid, sedangkan bagi laki-laki ketika mengalami mimpi basah.
Selain itu, jika seorang anak sudah memiliki akal yang sempurna dan bisa memahami tanggung jawab, maka ia sudah dianggap baligh dan wajib berpuasa.
"Baligh kan ukurannya bisa berbeda-beda. Ada yang usianya 13 sudah baligh, ada yang 15, dan seterusnya. Namun poinnya, sebelum sampai ke usia baligh sepanjang dia punya kemampuan untuk mulai berpuasa, katakanlah anak-anak usia 4, 5, sampai 6 tahun sudah mulai berlatih, maka jangan menunggu sampai penuh (masa baligh tiba)," ucap UAH.
Latihan puasa bagi anak tidak harus langsung penuh hingga Magrib. UAH menekankan bahwa anak cukup berpuasa sesuai kemampuannya, tanpa paksaan. Jika anak hanya kuat hingga pukul 10 pagi, orang tua harus tetap mengapresiasinya agar anak semakin semangat.
"Ketika anak-anak usia belia dan kita sebagai orang tua meminta mereka untuk berlatih berpuasa, lalu mereka berlatih mulai dari Subuh ternyata kuatnya sampai jam 10, Alhamdulillah. Sebagai orang tua wajib apresiasi anak, sanjung anak itu, karena nanti seiring waktu kemampuannya akan bertambah" ungkap UAH.
Lebih lanjut, UAH menjelaskan semakin sering berlatih, tubuh anak akan mulai terbiasa dengan ritme puasa. Menurut UAH, metabolisme tubuh akan menyesuaikan secara alami, sehingga kemampuan berpuasa anak akan meningkat sedikit demi sedikit. Jika hari pertama hanya kuat sampai jam 10 pagi, hari berikutnya bisa bertahan lebih lama.
Namun, penting untuk diingat bahwa dalam Islam, Allah tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Jika anak sudah tidak kuat di sore hari, misalnya pukul 5, maka jangan dipaksa untuk bertahan hingga Magrib.
Menurut UAH, kesalahan orang tua adalah memaksakan anak untuk berpuasa penuh tanpa mempertimbangkan kondisinya, alih-alih memaksakan lebih baik orang tua bijak dalam memantau perkembangan anak jangan sampai, niat hati ingin anak bisa berpuasa sampai Maghrib justru membuat anak sakit dan enggan melakukan puasa lagi.
Dalam Islam, latihan puasa tidak hanya berlaku bagi anak-anak, tetapi juga bagi orang yang baru masuk Islam (mualaf). UAH menjelaskan bahwa sangat disarankan bagi mualaf untuk mulai berlatih puasa di bulan Rajab dan Sya'ban. Namun, jika seseorang menjadi mualaf di tengah Ramadan, maka proses belajarnya sama seperti anak-anak yang baru mulai berpuasa.
"Di zaman Nabi itu pernah ada riwayat menyampaikan, silakan bagi yang kuat, mampu, tunaikan dulu puasanya, nanti kalau belum kuat di hari lain bisa diganti. Itu indahnya Islam, memberikan jalan untuk mendekatkan diri kepada syariat dengan tahapan yang baik," ujar UAH dalam video yang sudah ditonton lebih dari 27 ribu kali.
Kesimpulannya, menurut UAH usia ideal anak untuk mulai berlatih puasa adalah sebelum baligh, dengan cara yang bertahap dan menyesuaikan kemampuan anak.
Orang tua juga perlu membimbing anak agar merasakan kematangan, kenikmatan, serta kemampuan berpuasa penuh secara alami. Dengan metode yang tepat, anak akan tumbuh dengan pemahaman yang baik tentang ibadah puasa.
Bagi orang tua yang ingin memahami lebih dalam tentang cara melatih anak berpuasa, bisa menyaksikan penjelasan lengkapnya melalui laman resmi YouTube Adi Hidayat Official. Dengan panduan yang tepat, anak akan lebih mudah menjalani ibadah puasa tanpa merasa terbebani.
(*)
Editor : Siti Nur Qasanah