JP Bogor - Milia adalah kista epidermoid kecil berwarna putih yang sering muncul di area pipi dan hidung, biasanya dalam kelompok. Jika hanya terdapat satu kista, maka disebut milium. Milia terbentuk ketika keratin, protein yang umumnya ditemukan di jaringan kulit, rambut, dan kuku, terperangkap di bawah permukaan kulit.
Kondisi ini bisa terjadi pada siapa saja, dari bayi hingga orang dewasa, tetapi lebih sering dialami oleh bayi baru lahir. Meskipun milia umumnya tidak berbahaya dan bisa hilang dengan sendirinya tanpa perawatan khusus, dalam beberapa kasus, milia dapat dianggap mengganggu sehingga memerlukan penanganan lebih lanjut.
Jenis-Jenis Milia
Menurut halodoc.com, milia dikategorikan berdasarkan usia saat kista muncul serta penyebab yang mendasarinya. Secara umum, milia terbagi menjadi dua jenis utama:
1. Milia Primer
- Terbentuk langsung akibat keratin yang terjebak di bawah kulit.
- Umum terjadi pada bayi baru lahir maupun orang dewasa.
- Biasanya muncul di wajah, terutama di sekitar mata dan dahi.
2. Milia Sekunder
- Muncul akibat kondisi tertentu yang menyebabkan penyumbatan saluran kulit, seperti cedera, luka lepuh, atau luka bakar.
- Sering terjadi pada orang yang mengalami gangguan kulit atau setelah prosedur perawatan kulit tertentu.
Berikut beberapa jenis milia yang lebih spesifik:
- Milia Neonatus: Umum terjadi pada bayi baru lahir dan biasanya menghilang dalam beberapa minggu.
- Milia Primer Dewasa: Dialami oleh anak-anak dan orang dewasa, muncul di sekitar mata, dahi, atau alat kelamin.
- Milia en Plaque: Berkaitan dengan kondisi autoimun dan sering muncul di pipi, telinga, atau rahang, terutama pada wanita paruh baya.
- Multiple Eruptive Milia: Ditandai dengan munculnya kista secara tiba-tiba di wajah, lengan atas, atau dada, sering disertai rasa gatal.
Baca Juga: Kulit Gatal dan Kemerahan? Bisa Jadi Itu Eksim, Ketahui Faktor Pemicu dan Cara Mengobatinya di Rumah
Penyebab Milia
Menurut berbagai sumber medis, milia terbentuk ketika sel kulit mati atau keratin terjebak di bawah permukaan kulit. Penyebab milia pada bayi belum diketahui secara pasti, tetapi pada orang dewasa, kondisi ini sering dikaitkan dengan beberapa faktor berikut:
- Luka lepuh akibat kondisi kulit tertentu seperti epidermolisis bulosa atau pemfigoid sikatrisial.
- Luka akibat paparan tanaman beracun seperti poison ivy.
- Kerusakan kulit akibat sinar matahari yang berlebihan atau luka bakar.
- Penggunaan krim kortikosteroid dalam jangka panjang.
- Efek samping prosedur perawatan kulit seperti dermabrasi atau laser resurfacing.
Melansir dari alodokter.com, milia ditandai dengan benjolan kecil berwarna putih mutiara atau kekuningan dengan diameter sekitar 1–2 mm. Meskipun tidak menimbulkan nyeri, milia bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, terutama jika mengalami iritasi akibat gesekan dengan pakaian atau seprai berbahan kasar.
Milia dapat muncul di berbagai area kulit, tetapi lebih sering ditemukan di kulit kepala, dahi, kelopak mata, hidung, belakang telinga, pipi dan rahang, bagian dalam mulut, dada, dan area genital.
Milia umumnya bukan kondisi yang berbahaya dan tidak memerlukan perawatan khusus karena dapat hilang dengan sendirinya dalam beberapa minggu hingga bulan. Namun, bagi sebagian orang, terutama mereka yang merasa terganggu secara estetika atau mengalami iritasi akibat gesekan, terdapat beberapa cara untuk mengatasi milia.
Beberapa metode yang dapat dilakukan untuk menghilangkan milia antara lain perawatan kulit rutin dengan eksfoliasi ringan, penggunaan produk berbahan aktif seperti retinol, serta prosedur medis seperti ekstraksi oleh dokter kulit. Jika milia muncul akibat kondisi tertentu, seperti luka bakar atau paparan sinar matahari berlebihan, pencegahan dengan penggunaan tabir surya dan perawatan kulit yang tepat dapat membantu mengurangi risiko munculnya kista ini di masa mendatang.
Meskipun milia bukan kondisi yang berbahaya, penting untuk tidak mencoba memencet atau menghilangkannya sendiri karena dapat menyebabkan infeksi atau luka pada kulit. Jika milia tidak kunjung hilang atau semakin banyak, berkonsultasilah dengan dokter kulit untuk mendapatkan saran dan tindakan medis yang tepat.
Editor : Candra Mega Sari