Teras Bogor Viralpedia Wisata dan Kuliner Lifestyle

Studi Ungkap Risiko Depresi Lebih Tinggi pada Orang yang Belum Menikah, Ini Penyebabnya!

Siti Nur Qasanah • Rabu, 5 Februari 2025 | 21:45 WIB
Ilustrasi orang yang menunjukkan gejala depresi. (Dok. Pixabay/Hieu Van)
Ilustrasi orang yang menunjukkan gejala depresi. (Dok. Pixabay/Hieu Van)

JP Bogor - Depresi merupakan salah satu penyakit mental yang meluas secara global dan dapat membawa dampak fatal, termasuk kecenderungan melukai diri sendiri hingga bunuh diri.

Selain berdampak pada kesehatan mental, depresi juga berkontribusi terhadap berbagai komplikasi fisik, seperti penyakit jantung dan disabilitas, yang secara signifikan memengaruhi kesejahteraan seseorang.

Mengingat dampaknya yang besar, para ilmuwan terus meneliti faktor-faktor yang berperan dalam munculnya depresi guna mengembangkan strategi pengobatan dan pencegahan yang lebih efektif.

Dilansir dari Hindustan Times, sebuah studi yang diterbitkan di Nature Human Behaviour mengungkap bahwa status perkawinan menjadi salah satu faktor yang berkontribusi terhadap tingkat depresi.

Penelitian ini menunjukkan bahwa individu yang belum menikah—termasuk mereka yang lajang, bercerai, berpisah, atau berstatus janda/duda—memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala depresi dibandingkan mereka yang sudah menikah.

Studi ini menganalisis data dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, Korea, dan Meksiko, serta menemukan pola serupa di berbagai budaya. Studi lintas negara ini memberikan wawasan mendalam mengenai hubungan antara pernikahan dan tingkat depresi di masyarakat.

Mengapa Individu yang Belum Menikah Lebih Rentan Terhadap Depresi?

Ada beberapa faktor yang menyebabkan individu yang belum menikah lebih berisiko mengalami depresi, dengan latar belakang yang beragam.

Pertama, perbedaan gender memainkan peran penting. Studi menunjukkan bahwa pria yang belum menikah lebih rentan mengalami gejala depresi dibandingkan wanita. Hal ini diduga berkaitan dengan lebih sedikitnya jaringan dukungan sosial yang dimiliki pria serta tekanan sosial mengenai pernikahan dan stabilitas finansial.

Kedua, tingkat pendidikan juga berpengaruh. Ironisnya, individu yang berpendidikan tinggi cenderung lebih rentan terhadap depresi jika masih belum menikah. Hal ini disebabkan oleh tingginya ekspektasi sosial terhadap mereka, terutama dalam hal pencapaian karier. Beban kerja yang berat dan tekanan profesional sering kali membuat mereka kurang mendapatkan dukungan emosional yang biasanya diperoleh dalam pernikahan.

Selain itu, kebiasaan tidak sehat seperti konsumsi alkohol dan merokok secara berlebihan juga lebih sering ditemukan pada individu yang belum menikah, yang pada akhirnya meningkatkan risiko depresi.

Baca Juga: Mengenal Sneeze Reverse pada Anjing: Ketika Proses Bersin Berjalan Terbalik, Apakah Berbahaya?

Studi ini menunjukkan bahwa pernikahan dapat memberikan stabilitas emosional serta mengurangi kebiasaan hidup yang tidak sehat. Para peneliti juga mencatat bahwa kebiasaan seperti merokok dan mengonsumsi alkohol dapat memperburuk kondisi depresi.

Secara keseluruhan, kurangnya dukungan sosial dapat memperparah depresi, membuat tantangan hidup terasa lebih berat untuk dihadapi. Dalam pernikahan, pasangan dapat memberikan dukungan emosional, sosial, bahkan finansial, yang membantu mengurangi tekanan hidup dan memperbaiki kesejahteraan mental.

(*)

Editor : Siti Nur Qasanah
#belum menikah #lajang #menikah #depresi #gejala depresi #perkawinan