Sekitar 14,6 juta ton sampah atau 38% dari timbunan sampah terklasifikasi sebagai sampah yang tidak ditangani dengan baik. Tumpukan sampah itu seringkali berakhir untuk dibakar di luar ruangan, dibiarkan di jalanan atau sungai terbuka, dan di tempat pembuangan yang tidak resmi. Tentu diperlukannya program berskala besar dari pemerintah untuk mengatasi hal ini.
Akan tetapi, akan lebih baik apabila anda mulai berkontribusi untuk meminimalisir penumpukan sampah dari rumah dengan menerapkan konsep green living atau sustainability living. Dengan semakin banyak orang yang menerapkan konsep tersebut, maka akan berimbas baik untuk lingkungan ke depannya. Menerapkan konsep green living berarti kita dituntut untuk tidak mengeksploitasi alam, tetapi belajar untuk hidup berdampingan dengan baik, dan mengajarkan kita untuk bertanggung jawab penuh pada barang-barang yang digunakan.
Berikut 4 tips yang dapat anda terapkan di rumah demi mewujudkan gaya hidup berkelanjutan atau green living di rumah.
1. Meminimalisir Pembuangan Sampah
Penerapan konsep green living atau sustainability adalah dengan memaksimalkan sumber daya atau material yang ada di dalam rumah. Kurangi penggunaan benda yang berpotensi cepat untuk menjadi sampah, seperti penggunaan plastik, sedotan, dan botol sekali pakai.
Solusi yang bijak untuk mengurangi konsumsi barang sekali pakai adalah dengan menggunakan material yang bisa dipakai berulang kali. Gunakan botol, tempat makan, dan sedotan reusable kemanapun anda pergi. Juga bawalah kantong belanja ketika ingin membeli kebutuhan di rumah baik itu di pasar tradisional maupun pasar swalayan. Terutama ketika sedang berbelanja di pasar tradisional, seringkali penjual mengenakan plastik berlapis - lapis untuk membungkus belanjaan.
Kini juga tengah marak dijual produk yang memiliki daya tahan lama dan ramah lingkungan. Tidak ada alasan untuk masih menggunakan produk sekali pakai demi mengedepankan aspek kepraktisan. Proses meminimalisasi pembuangan sampah akan lebih efektif dengan menerapkan gerakan 5R. Yakni, Refuse, Reduce, Reuse, Recycle, dan Rot.
Aspek Reuse bisa diterapkan dengan mengalihfungsikan suatu material yang sudah tidak terpakai, seperti menjadikan botol plastik sebagai pot tanaman atau menyulapnya menjadi sebuah kerajinan tangan. Sedangkan untuk aspek Recycle dan Rot adalah dengan mengirimkan sampah kepada pihak pengelola setempat. Kategori sampah yang paling umum dihasilkan oleh sebuah rumah tangga adalah sampah plastik.
Melansir dari data dari Sustainable Waste Indonesia (SWI), pada tahun 2017, hanya 7 % sampah plastik yang didaur ulang, lalu sebanyak 69% di antaranya dibiarkan menumpuk di tempat pembuangan akhir. Kemudian, 24 % sisanya dibuang sembarangan dan dikategorikan sebagai illegal dumping dan menjadi penyebab pencemaran lingkungan.
Untuk mencegah hal tersebut, penghuni rumah perlu diberikan edukasi terkait bahan plastik yang mudah didaur ulang adalah, seperti PET atau PETE (Polyethylene terephthalate) dan HDPE (High density polyethylene). Plastik dengan bahan tersebut sering ditemukan pada botol air mineral, soda, minyak, susu, botol sampo, produk pembersih, toples selai, dan lain-lain. Anda bisa membuat tempat khusus di sudut rumah untuk menampung material yang sudah tidak terpakai sesuai dengan jenisnya.
Daur ulang berperan besar dalam menciptakan kehidupan minim sampah karena dilakukannya pengambilan produk limbah dan mengubahnya menjadi sesuatu yang berguna.
2. Menggunakan Produk Ramah Lingkungan
Anda bisa mengganti barang-barang di rumah anda perlahan dengan produk yang ramah lingkungan. Seperti beralih dari spons pencuci piring biasa menjadi spons ramah lingkungan, yakni loofah serta mengganti sabun dan deterjen dengan material alami dan biograbeable, seperti buah lerak. Buah tersebut juga bersifat antimikroba dan hypoallergenic sehingga aman untuk digunakan pada kulit sensitif dan pakaian bayi.
Anda juga bisa menjadikan soda kue atau juga sebagai alternatif dari produk pembersih yang mengandung zat berbahaya yang tidak ramah lingkungan. Selain itu, gunakan bohlam lampu LED di rumah, walau harganya cenderung mahal, tetapi lampu jenis ini dapat menghemat energi karena lebih tahan lama dan sumber energi yang dibutuhkan lebih sedikit.
Untuk menghindari ketergantungan pada peralatan elektronik, anda dapat memaksimalkan pemanfaatan sinar matahari di rumah untuk keperluan mengeringkan baju atau menerangi ruangan. Semakin sering menggunakan peralatan elektronik akan berbanding lurus dengan tingginya jumlah emisi karbon yang dihasilkan.
3. Menanam Pohon
Menanam pohon atau tumbuh-tumbuhan hijau lainnya halaman rumah akan mempercantik taman anda juga mendatangkan banyak manfaat. Manfaat yang akan anda peroleh, antara lain dihasilkannya oksigen untuk menyerap karbondioksida yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari. Dengan ditanamnya pohon juga akan mempersejuk tempat tinggal anda.
4. Melakukan Food Preparation
Food waste atau pembuangan sampah makanan juga merupakan masalah serius di Indonesia. Melansir dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Farahdiba et al yang diterbitkan pada Journal of Environmental Technology and Innovation menyatakan bahwa setiap tahunnya rata-rata satu orang di indonesia menghasilkan 300 kg sampah makanan setiap tahunnya. Kategori food waste dalam penelitian tersebut merupakan sisa makanan, makanan basi, dan makanan kadaluarsa.
Kabar buruknya adalah, setiap 1 kg sampah makanan berpotensi untuk menghasilkan 2,5 kg karbon dioksida dan sekitar dan 0,5 meter kubik gas metana. Gas metana juga merupakan penyumbang gas rumah kaca yang terbanyak di atmosfer.
Untuk mencegah pembuangan sampah organik tersebut terjadi, anda bisa melakukan persiapan akan makanan apa saja yang akan dikonsumsi setiap minggunya. Pastikan anda memakan semua makanan yang anda beli, ini juga merupakan sebagai bentuk pertanggung jawaban anda.
Seringkali food waste terjadi karena banyaknya porsi makanan yang dimasak atau terlalu banyaknya membeli makanan dan sebagiannya berakhir begitu saja karena sudah kadaluarsa. Selain itu, terapkan gaya hidup sehat, yakni hanya memakan makanan alami atau real food dan mengurangi konsumsi makanan yang melalui ultra proses karena proses mengolah makanan tersebut juga turut menyumbang gas emisi karbon.